Yulius dan Supoyo Ungkap Filosofi Lomba Pasang Udeng dan Jarik Tengger

Supoyo dan Yulius Christian mengungkapkan makna filosofi lomba pasang udeng dan jarik menyemarakkan Yadnya Kasada.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id - Menyemarakkan Yadnya Kasada 1945 Saka, puluhan siswa siswi SD dan SMP mengikuti lomba pasang udeng dan jarik Tengger, Minggu (4/6/2023) di SDN Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. 

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Probolinggo Yulius Christian didampingi Sesepuh Tengger Supoyo dan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. 

Selama kegiatan lomba pasang udeng dan jarik tengger berlangsung, dewan juri melakukan penilaian kepada masing-masing peserta lomba mulai dari kerapihan dan ketepatan waktu yang telah ditentukan oleh panitia.

Untuk lomba pasang udeng tingkat SD, juara pertama diraih oleh Sindhu Lileh Linggar Utomo dari SDN Ngadisari II, juara kedua diraih oleh Davinco Aldrey Erthanza dari SDN Jetak dan juara ketiga diraih oleh Alexsa Putra Daniswara dari SDN Ngadisari I.

Juara pertama lomba memasang jarik tingkat SD, juara pertama diraih Carolina Razyla Oktavia dari SDN Jetak, juara kedua diraih Aqilla Queen Zahratus dari SDN Sapikerep 2, juara ketiga diraih Cincin Rejeki dari SDN Jetak.

Sedangkan lomba pasang udeng tingkat SMP, juara pertama diraih Abhisheka Haret, juara kedua diraih Dirman Pandu dan juara ketiga diraih Ariella Reifan Oktavio. Ketiga pemenang itu berasal dari SMPN Sukapura. Untuk lomba pasang jarik Tengger tingkat SMP,  juara pertama diraih Devi Karisma dari SMPN 7 Sukapura, juara kedua diraih Marsalina Andrian dari SMPN 7 Sukapura dan juara ketiga diraih Siska dari SMPN 3 Sukapura. 

Yulius Christian menjelaskan, lomba pasang udeng dan pasang jarik Tengger ini dilakukan sebagai role model bagi siswa SD dan SMP mengenai cara memasang udeng Tengger dengan baik dan benar. 

"Mudah-mudahan lomba memasang udeng ke depannya lebih baik dan lebih meriah lagi," katanya. 

Menurutnya, lomba pasang udeng ini dianggap penting dan memiliki keterampilan khusus yang sudah diajarkan oleh orang tuanya. 

Filosofinya adalah bagaimana orang tua mengajarkan budi luhur kepada anaknya. Pada cara proses dari lembaran hingga cara pemasangannya berfilosofi bahwa bagaimana seorang anaknya dibimbing oleh orang tuanya menjadi dewasa dan itu sebuah wujud perjuangan untuk mencapai sukses kehidupan. 

"Udeng Tengger ini nantinya yang akan digunakan oleh pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo pada setiap kegiatan sesuai dengan SK Bupati Probolinggo. Jadi, bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo diwajibkan untuk menggunakan udeng Tengger," jelasnya. 

Sementara Sesepuh Tengger Supoyo menambahkan, dengan memakai udeng itu bermakna seseorang itu mudeng atau mengerti bahwa menggambarkan makna Trimurti yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa. Dari situ sebuah kelahiran. 

"Dari makna itu bahwa Anna, Urip, mati itu maksudnya kita itu ada karena Tuhan Yang Maha Esa. Kita itu hidup karena Tuhan Yang Maha Esa dan kita mati itu juga karena Tuhan Yang Maha Esa," pungkas Supoyo. ig/fa

926

© . All Rights Reserved. Powered by beritakata.id