Keramahan Kiai Jalal Tak Ada Lawan

Anwar Sadad di belakang Kiai Jalal di malam Kiai Mino. Foto: Istimewa

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id - Wakil Ketua DPRD Jatim Anwar Sadad sedih setelah mendengar Pengasuh Ponpes Nurul Qodim Paiton KH Hasan Abdul Jalal wafat, Jumat (24/3/2023).

Sadad menuliskan kenangan tentang Kiai Jalal di akun Instagram miliknya @ansadad.

Berikut tulisannya...
 
Mendengar kabar KH Hasan Abdul Jalal wafat, beberapa saat setelah salat Jumat, pikiran saya langsung mengembara ke masa-masa ketika pertama kali mengenal beliau, sekitar tahun 2013. 

Kiai Jalal, begitu beliau biasa dipanggil, pribadi yang hangat dan menyenangkan. Keramahannya tak ada lawan. 

Dalam perbincangan di ruang tamu 'ndalem' yang sederhana, panggilan untuk perjuangan agama tak dapat disembunyikan. Nilai-nilai Islam harus diperjuangkan melalui semua 'jalan'. 

Sebagai politikus, saya memahami bahwa nilai-nilai itu juga harus diperjuangkan di jalan politik.

Setelah dijamu dengan hidangan khas, saya diajak beliau ke aula pesantren putri. Saya diminta memberikan motivasi kepada ratusan santriwati yang hadir siang itu. 

Kiai Jalal mendampingi saya. Non Ubaid, putranya, memberi pengantar singkat memperkenalkan saya sebagai santri yang sekarang mendapat amanah menjadi seorang legislator. 

Santri tak boleh berkecil hati, dengan ketekunannya mereka bisa menjadi pemimpin di masa mendatang.

Kiai Jalal juga mengajak saya berkeliling pesantren, menunjukkan asrama yang sedang dibangun. 

Sambil berjalan kaki, beliau bercerita tentang pendidikan pesantren. 

Saya lupa apakah saat itu sudah berdiri Ma'had 'Ali di pesantren beliau. 

Kini Nurul Qodim menjadi pionir pendidikan pesantren, telah mendirikan Marhalah Tsaniyah Ma'had 'Ali, setara S2 di perguruan tinggi umum. 

Kiai Jalal beruntung punya putra-putri yang 'well-educated' mewarisi 'ghirah' perjuangan ayahnya.

Kiai Jalal bercerita tentang upayanya mengalihkan alur aliran sungai yang melintas di pesantrennya. Bertahun-tahun. Dengan cara konvensional dan tradisional. 

Semua kisah, yang remeh-temeh dan maha penting diceritakan beliau dengan antusias. 

Lalu saya diajak ke makam ayahanda tercinta, Kiai Hasyim Mino, yang terletak di kompleks pesantren. Bagi saya ini merupakan kehormatan. Kiai Jalal bercerita tentang perjuangan Kiai Mino, panggilan akrabnya. 

Di makam itu, saya sejenak saya merasakan aura mistis. Saya tidak bisa menggambarkan betapa terharunya, bahwa saya, yang notabene baru dikenal, telah mendapatkan penerimaan yang luar biasa. 

Pada masa-masa berikutnya saya beberapa kali sowan kepada beliau. ig/fa

1154

© . All Rights Reserved. Powered by beritakata.id