50 Sekdes Ikuti Bimtek untuk Naikkan Status Jadi Desa Mandiri di Krucil

Bimtek digelar Dinas PMD Kabupaten Probolinggo di Kecamatan Krucil, diikuti 50 sekretaris desa atau sekdes..

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo terus berupaya memajukan desa.

Buktinya, DPMD menggelar bimbingan teknis (bimtek) peningkatan kapasitas aparatur pemerintahan desa dalam upaya menaikkan status Desa Maju menjadi Desa Mandiri di Villa Unsana Desa Bermi Kecamatan Krucil, Senin (30/10/2023) dan Selasa (31/10/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang Sekretaris Desa (Sekdes) yang berasal dari Kecamatan Sukapura, Sumber, Bantaran, Leces, Tiris, Krucil, Gading, Pakuniran, Kotaanyar, Paiton, Kraksaan, Krejengan, Pajarakan, Maron, Gending, Dringu, Tegalsiwalan dan Tongas.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi kebijakan umum dan upaya percepatan kemandirian desa dari DPMD, perluasan akses PAUD dan pendidikan kesetaraan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, PHBS dan pencegahan stunting dari Dinas Kesehatan, tata kelola lingkungan sehat melalui pengelolaan sampah secara mandiri dari Dinas Lingkungan Hidup, pembinaan dan pengawasan tata kelola keuangan dana desa dari Inspektorat serta pendampingan pembangunan desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban dari Tenaga Pendamping Profesional.

Kegiatan tersebut juga diisi dengan jam pimpinan yang dihadiri oleh Kepala DPMD Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi dan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto pada Senin (30/10/2023) malam.

Kepala DPMD Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi menyampaikan kegiatan ini bertujuan menaikkan status Desa Mandiri menjadi 88 desa di tahun 2024 dari kondisi eksisting saat ini dimana strata IDM Kabupaten Probolinggo terbagi menjadi Desa Mandiri sebanyak 44 desa, Desa Maju sebanyak 192 desa dan Desa Berkembang sebanyak 89 desa.

“Kami memang memilih sekretaris desa karena memang ini sebenarnya merupakan motor penggerak pemerintahan desa, baik dalam tata kelola keuangan, tata kelola aset maupun administrasi pemerintahan sendiri. Sekretaris desa ini menjadi koordinator bagi seluruh perangkat desa sehingga harapannya nanti bisa menggerakkan semua aparatur pemerintah desa untuk bisa melaksanakan tugasnya dengan baik,” ujarnya.

Rozi menjelaskan 50 Sekretaris Desa ini berasal dari Desa Maju yang memiliki peluang dan potensi untuk bisa segera menjadi Desa Mandiri. “Harapannya melalui kegiatan ini nanti akan ada aksi-aksi yang bisa menjadikan Desa Maju segera menjadi Desa Mandiri,” terangnya.

Sementara Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto mengharapkan ke depan yang di desa melalui Sekdes mempunyai pandangan dan persepsi yang sama dalam rangka untuk ikut menangani permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo terkait dengan IPM, untuk sektor kesehatan dan Pendidikan.

“Dari 3 indikator sektor pendidikan, kesehatan dan daya beli, kita yang daya belinya sudah bisa di atas rata-rata Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tapi untuk sektor pendidikan dan kesehatan ini masih dibawah rata-rata. Bahkan kalau mungkin dilihat dipetakan di 38 kabupate/kota di Jawa Timur, kita Insya Allah masih di seputar antara ranking 3 atau 5 dari bawah. Tentunya permasalahan ini harus diselesaikan secara bersama-sama, tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemkab Probolinggo saja, tapi ketika itu bisa didukung dan disupport pemerintahan desa, Insya Allah ini akan lebih cepat teratasi,” katanya.

Menurut Pj Sekda Heri, salah satunya di sektor pendidikan di desa nanti diharapkan mereka bisa melalui dana desanya berpartisipasi dalam rangka untuk membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat yang mungkin pendidikannya harus segera ditingkatkan melalui pendidikan kejar paket dan sebagainya.

“Tentu harapannya ketika hanya dilakukan di Kabupaten Probolinggo yang hanya beberapa rombongan belajar saja tidak akan bisa semasif ketika satu desa kita minta membuka dua rombongan belajar yang masing-masing 20 orang. Satu rombongan belajar 20 orang saja dikali 325 desa akan banyak masyarakat yang tingkat pendidikannya teratasi,” jelasnya.

Demikian juga dengan masalah kesehatan jelas Pj Sekda Heri, keterkaitan dengan masalah stunting tidak serta-merta hari ini ada tindakan kemudian mereka selesai, tapi ini butuh waktu dan proses sehingga ketika di desa juga melakukan hal yang sama karena mereka lebih dekat dan lebih tahu masyarakatnya, Insya Allah ini akan bisa cepat teratasi.

“Termasuk untuk pengelolaan lingkungan hidup berupa sampah yang menjadi permasalahan kita bersama. Bahkan mungkin kalau lihat di daerah-daerah tertentu, masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai dan lain sebagai. Melalui kegiatan ini Pemerintah Desa kita sadarkan dan kita ajak untuk berpikir bersama untuk sama-sama mengatasi salah satunya edukasi kepada masyarakat bagaimana ke depan masyarakat tidak lagi menjadikan sungai dan saluran irigasi sebagai tempat pembuangan sampah,” terangnya.

Pj Sekda Heri menegaskan para Sekdes ini lebih dekat dan lebih memahami karakteristik para masyarakatnya sehingga edukasi dan pendekatan bisa dilakukan sesuai dengan kearifan lokal desa masing-masing. Tentunya mereka yang ada di pesisir akan beda pendekatannya dengan mereka yang ada di pegunungan maupun di dataran tengah.

“Harapan mungkin ketika kita bersama-sama, Insya Allah permasalahan yang dihadapi bersama terkait dengan kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup akan bisa lebih cepat. Walaupun hari ini masih 50 desa yang dikumpulkan, mudah-mudahan ini segera bisa direplikasi untuk desa-desa yang lain,” pungkasnya. ig/**/fa

490

© . All Rights Reserved. Powered by beritakata.id